Tuesday, March 28, 2017


                                                         TEORI KEBIDANAN JEAN BALL 
 
BAB I PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG

Hipotesa Ball, respon emotional wanita terhadap perubahan yang terjadi bersamaan dengan kelahiran anak yang mempengaruhi personality seseorang dan dengan dukungan yang berarti mereka mendapatkan sistem keluarga dan sosial. Persipan yang telah di lakukan bidan pada masa postnatal akan mempengaruhi respon emotional wanita terhadap perubahan akibatproses kelahiran tersebut. Kesejahteraan wanita setelah melahirkan tergantung pada personality dan kepribadian, sistem dukungan pribadi dan dukungan dari pelayanan maternitas. 


Setelah Ibu melahirkan, maka Ibu memasuki masa nifas atau yang lazim disebut puerperium. Masa nifas (puerperium) adalah waktu yang dimulai setelah placenta lahir dan berakhir kira-kira 6 minggu. Akan tetapi alat kandungan seperti semula (sebelum hamil) dalam waktu kurang lebih 3 bulan.
Dimulai dengan kehamilan, persalinan dan dilanjutkan dengan masa nifas merupakan masa yang kritis bagi ibu dan bayinya. Kemungkinan timbul masalah dan penyulit selama masa nifas. Apabila tidak ditangani segera secara efektif akan membahyakan kesehatan, bahkan bisa menyebabkan kematian dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam pertama. Untuk itu pemberian asuhan kebidanan kepada Ibu dalam masa nifas sangat perlu dilakukan yang bertujuan untuk menjaga kesehatan Ibu dan bayinya, melaksanakan deteksi dini adanya komplikasi dan infeksi, memberikan pendidikan pada Ibu serta memberikan pelayanan kesehatan pada Ibu dan bayinya.
Selama masa nifas, Ibu akan mengalami berbagai perubahan. Perubahan yang terjadi pada masa nifas tidak hanya terjadi secara fisik saja, melainkan juga psikologis atau kejiwaan. Sehingga, pemberian edukasi tentang informasi yang berkaitan dengan masa nifas sangat perlu diberikan pada Ibu dalam masa nifas.



B.TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu untuk mengetahui teori kebidanan menurut Jean Ball yang meliputi:
1.      Pengertian dari teori Bean Ball
2.      Tujuan dari teori Jean Ball
3.      Hipotesa teori jean Ball
4.      Pembagian teori Jean Ball
5.      Elemen pembentukan teori kursi goyang
6.      Konsep teori Jean Ball
7.      Faktor – faktor yang Berkaitan
8.      Aplikasi dari teori Jean Ball dalam kehidupan sehari-hari
C.RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana pengertian teori kebidanan menurut Jean Ball ?
2.      Apa tujuan dari teori Jean Ball ?
3.      Bagaimana hipotesa dari teori Jean Ball ?
4.      Apa-apa saja pembagian teori menurut jean Ball ?
5.      Apa saja elemen pembentukan dari teori kursi goyang ?
6.      Bagaimana konsep teori kebidanan menurut Jean Ball ?
7.      Apa saja Aplikasi dari teori Jean Ball dalam kehidupan sehari-hari ?
BAB II
PEMBAHASAN

A.PENGERTIAN TEORI JEAN BALL


Jean ball adalah seorang midwife” (bidan) dari British yang telah melakukan risetnya secara intensif terhadap kebutuhan wanita pada masa postnatal, dan konsekuensinya bagi wanita yang mendapat asuhan dari berbagai unit pelayanan.
Dalam bukunya “Reaction to motherhood” (1987) ia menjelaskan tujuan asuhan postnatal yang sekaligus juga menjadi filosofi Jean Ball tentang postnatal care sebagai berikut: “membantu seorang wanita agar berhasil menjadi ibu, dan keberhasilan ini tidak hanya melibatkan proses fisiologi saja tapi juga psikologis dan emosional yang memotivasi keinginan untuk menjadi orang tua serta pencapaiannya.”
Ia menyatakan bahwa dalam praktik diberbagai institusi, jenis pelayanan yang diberikan mungkin lebih dekat ke model obstetric/medical dimana interest terhadap postnatal care minimal karena kelahiran sudah tercapai.
Teori Jean Ball adalah dasar pemikiran menurut penelitian yang bernama jean Ball, yang konsekuensinya telah diuji dalam beberapa riset (penelitian) dan menujukkan hasil yang nyata.
Teori ini mengemukakan tentang keseimbangan emosional itu, yang diibaratkan pada kursi “goyang”. Teori ini sering disebut kursi goyang karena tingkat emosional seorang ibu harus berada pada titik seimbang (stabil) sehingga mirip dengan kursi goyang dimana beban harus seimbang pada titik tumpu, karena jika tidak, kursi akan condong ke arah yang memiliki beban yang berat, begitu juga dengan pengendalian emosional seseorang. Jika seseorang (wanita) mampu mengendalikan tingkat emosionalnya berarti orang tersebut memilki tingkat emosional yang rendah dan terkendali atau sebaliknya. Semua itu dapat kita lihat dalam berbagai keunikan tindakan yang diambil Ibu dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya.
B.TUJUAN TEORI JEAN BALL
Tujuan asuhan maternis agar seorang wanita mampu melaksanakan tugasnya sebagai ibu, baik fisik maupun psikologis. Psikologis dalam hal ini tidak hanya pengaruh emosional tetapi juga proses emosional agar tujuan akhir memenuhi kebutuhan untuk menjadi orang tua terpenuhi. Kehamilan, persalinan dan masa post partum adalah masa mengadopsi peran baru, sehingga bagi wanita yang baru menjadi ibu sangat membutuhkan arahan-arahan dan bimbingan dari bidan tentang tindakan-tindakan yang harus diambil maupun tindakan-tindakan yang harus dihindari demi keselamatan dan kesehatan ibu dan anak. Dalam hal ini dukungan dari suami dan keluarga sangat diperlukan demi psikologis (kejiwaan) seorang ibu.
Agar ibu mampu melaksanakan tugasnya sebagai ibu secara fisik maupun psikologis. Psikis dalam hal ini tidak hanya pengaruh emosional tapi juga proses emosional agar tujuan akhir memenuhi kebutuhan untuk untuk menjadi orang tua terpenuhi

C.HIPOTESA JEAN BALL
Menurut Jean Ball respon emosional wanita terhadap perubahan yang terjadi bersamaan dengan kelahiran anak yang mempengaruhi personality seseorang dan dukungan yang berarti, mereka mendapatkan sistem keluarga dan sosial. Ibu sebagai penerus keturunan sekaligus pendidik utama dalam keluarga sangat mempengaruhi perkembangan anak. Seorang anak yang dibesarkan dalam asuhan keluarga yang baik, ketika ia barinteraksi di lingkungan masyarakat maka ia akan terbiasa dengan perilaku yang baik pula. Persiapan yang sudah diantispasi oleh bidan dalam masa post natal atau sesudah melahirkan anak akan mempengaruhi respon emosional wanita dalam perubahan yang dialaminya pada proses kelahiran anak. Oleh karena itu asuhan kebidanan harus diberikan kepada seluruh individu kelompok dan masyarakat secara profesional baik pelayanan tersebut secara mandiri, kolaborasi (kerjasama melebihi dari beberapa orang) maupun merujuk ke sistem yang lebih tinggi.
D.PEMBAGIAN TEORI JEAN BALL
Pembagian teori Jean Ball mencakup 3 kategori yaitu :
1.Teori perubahanPerubahan mental ibu sebelum dan sesudah menjadi ibu akan jelas terlihat dalam kehidupan baik itu secara fisik maupun psikologis si ibu. Secara fisik dapat kita lihat pada perubahan bentuk tubuh setelah melahirkan anak. Sedangkan secara pssikologis misalnya dalam pematangan mental (pendewasaan sikap) setelah melahirkan (post partum) ibu tidak hanya berfikir untuk anak dan keluarganya.
2.Teori stress, coping, dan supportTingkat emosional sangat mempengaruhi mental ibu. Oleh karena itu dukungan atau support dan motivasi dari keluarga terhadap perubahan-perubahan yang timbul terutama perubahan yang bersifat positif, support dari orang-orang terdekat ibu sangat diperlukan untuk menghindari dari stress, depresi, post partum dan dampak-dampak negatif  lainnya.
3.Teori dasarKonsep dasar untuk menjadi seorang ibu meliputi berbagai aspek diantaranya :
a.       Butuh persiapan jasmani dan rohani
b.      Dukungan dari pihak keluarga

E.ELEMEN PEMBENTUKAN TEORI KURSI GOYANG

Kesejahteraan wanita setelah melahirkan sangat bergantung pada personality atau kepribadian wanita itu sendiri, support system dukungan pribadi dan support yang diberikan oleh pelayanan maternitas.
Penjelasan gambar
  1. Dasar kursi dibentuk oleh pelayanan kebidanan yang berpijak pada pandangan masyarakat tentang keluarga.
  2. Topangan kanan kiri adalah kepribadian wanita, pengalaman hidup.
  3. Topangan tengah (yang menyangga kursi dari belakang kanan-kiri ) adalah keluarga dan support sistem.
  4. Tempat duduk menggambarkan kesejahteraan maternal, yang tergantung pada efektifitas elemen-elemen sebagai berikut:
-          Jika deck chair tidak ditegakkan dengan benar, maka ia akan kolaps/jatuh saat diduduki.
-          Jika kursi tidak di letakkan pada lantai yang kuat maka kursi akan jatuh.
-          Jika bagian-bagiannya tidak cocok satu sama lain mungkin dapat saja menyangga, namun yang menduduki tidak nyaman dan mengalami ketegangan.

Ball mengemukakan teori kursi goyang/deck chair yang terdiri dari 3 elemen yaitu:
1.Pelayanan maternitas Bidan berkewajiban memberikan pelayanan kesehatan kepada remaja putri, ibu masa hamil, bersalin, nifas, bayi baru lahir, balita dan wanita monopouse. Dalam memberikan asuhan kebidanan, bidan harus mempertanggung jawabkan semua tindakan klinis yang diambil dan harus melaksanakan tanggungjawab tersebut yang meliputi tugas bidan sebagai pelaksana, pengelola, pendidik, peneliti dan lain-lain.
2.Pandangan masyarakat terhadap keluarga Pandangan masyarakat terhadap suatu keluarga sangat mempengaruhi perkembangan dan tingkat harga diri anggota keluarga tersebut. Jika pandangan masyarakat baik terhadap keluarga maka secara otomatis penerus keluarga akan mendapatkan nama baik dalam pandangan masyarakat, selama si anak tidak melanggar norma-norma yang terdapat dalam masyarakat.
3.Sisi penyanggah/support terhadap kepribadian wanita Dukungan terhadap perubahan kepribadian/kebiasaan hidup wanita sangat dibutuhkan, agar wanita tersebut tidak merasa down terhadap tingkat perubahan diri yang tidak disadarinya.Kesejahteraan keibuan seorang wanita sangat bergantung terhadap efektifitas 3 elemen tersebut. Jika kursi goyang tidak dapat ditegakkan, maka tidaak nyaman untuk diduduki.
F.KONSEP TEORI JEAN BALL
1.Women / wanitaBall memusatkan perhatiannya terhadap perkembangan emosional, sosial, psikologis wanita dalam proses melahirkan.
2.Healt / kesehatanMerupakan pusat dari model Ball. Tujuan dari post nata care agar wanita-wanita mampu menjadi seorang ibu.
3.Enviroment / Lingkungan sosial dan organisasi dalam sistem dukungan dan pelayanan perawatan post natal.
4.Midwifery / kebidananPenelitian asuhan post natal misalnya kurang efektif, kurang pengetahuan tentang kebidanan.
5.SelfPeran bidan dalam meyakinkan wanita dalam perannya sebagai seorang ibu. 

G.Faktor – faktor yang Berkaitan
Faktor yg pengaruhi keseimbangan emosional menurut Jean Ball:
a. Faktor masukan:
1. Perasaan rendah diri sehubungan dengan pandangan negatif terhadap akibat menyusui.
2. Seorang tidur selama di RS
3. Nasehat bila terjadi konflik
Faktor-faktor tersebut akan mempengaruhi masa PP 7 hari pertama
b. Faktor yg mempengaruhi kebahagiaan ibu menurut Jean Ball ( Keadaan masa PP 7 hari pertama):
1. Persepsi dan dukungan keluarga pada hari kelahiran.
Sebagian dari ibu merasa rendah diri sehubungan dengan pandangan negatif akibat menyusuui sehingga memerlukan dukungan keluarga terutama suami. Keluarga juga harus membantu si ibu untuk merawat bayinya setelah pulang ke rumah serta si ibu juga memerlukan nasihat-nasihat yang berkenaan dengan mengurusi bayinya/pada saat terjadi konflik antara suami dan istri.
2. Rasa percaya diri ibu.
Lingkungan, keluarga, status sosial, dan status perkawinan dapat berpengaruh pada rasa percaya diri seorang perempuan untuk menjadi seorang ibu.
3. Tingkat kecemasan yaitu pemilihan dan kelas sosial mimikri.
Yaitu tingkat kecemasan ibu yang dihadapkan pada pilihan-pilihan kelas sosial mana yang dapat ditiru.
4. Mendukung pemberian ASI.
Bidan memberikan pengertian pada ibu agar memberikan ASI eksklusif, memberitahu ibu agar tidak perlu khawatir payudaranya akan menjadi tidak kencang, memberitahu manfaat ASI eksklusif bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi.
5. Semua lingkungan mendukung.
Hubungan dengan suami dan keluarga atas dasar kepercayaan, asuhan terkoordinasi, wanita memiliki keunikan sehingga memungkinkan untuk berinteraksi secara fleksibel.
6. Rencana asuhan ibu.
Bidan memberikan asuhan post natal pada ibu misalnya memberikan informasi tentang cara menyusui dan merawat bayi dengan benar.
7. Pemantauan ibu pada tingkat perkembangan bayi.
Seorang ibu akan merasa bahagia apabila melihat tumbuh kembang anaknya berjalan dengan baik dan normal. Contohnya ibu akan merasa bahagia dan bangga apabila anaknya mulai bisa berjalan merambat pada kisaran usia 11 bulan.
8. Tanggapan terhadap diri ibu pada hari ke 7 PP dalam menyusui.
Seorang ibu menganggap bahwa setelah melahirkan, payudaranya akan menjadi tidak kencang dan al itu akan mempengaruhi kesejahteraan ibu.
9. Memberi ASI dalam 1 jam PP
Memberikan ASI kepada bayi 1 jam setelah lahir akan memberikan kepuasan menjadi seorang ibu merasa bahagia karena bayinya kahir dengan selamat.
10. Kala IV persalinan
Yaitu kondisi letak rahim ibu sudah kembali normal (rahim di bawah pusat).
 H.Aplikasi Teori Jean Ball
1. Dahulu posisi ibu saat melahirkan terlentang tetapi sekarang ini posisi ibu saat melahirkan senyaman ibu. Agar memberikan rasa kenyamanan psikologis bagi Ibu.
2. Keluarga memberikan dukungan terutama ibu yang pertama kali melahirkan agar  siap secara mental menjadi seorang Ibu dan membantu ibu menyesuaikan diri dengan rutinitas baru pasca melahirkan
3.Bidan memberikan asuhan pada Ibu selama masa postnatal
4.Bidan memberi dukungan mengenai rasa percaya diri ibu terhadap menyusui pada 7 hari pertama
5.Bidan memberikan pengertian pada ibu agar ibu jangan takut atau khawatir dengan perubahan fisik pada tubuh ibu
6.Bidan mendukung dan membantu ibu agar yakin menjalankan peran sebagai seorang ibu.


















Kesimpulan
1.Dalam teori Jean Ball menegemukakan tentang keseimbangan emosional ibu yang diibaratkan pada kursi “goyang”. Dimana jika seorang wanita mampu mengendalikan tingkat emosionalnya, berarti orang rersebut memilki tingkat emosional yang rendah dan terkendali atau sebaliknya.
2.Asuhan maternis diberikan kepada seorang wanita agar wanita tersebut mampu untuk melaksanakan tugasnya sebagai seorang ibu, baik fisik maupun psikologis.
3.Kesejahteraan seorang wanita setelah melahirkan sangat tergantung pada personality, sistem dukungan pribadi, dan dukungan pelayanan maternis.
4.Teori kusi goyang dibentuk dalam 3 elemen penting yaitu, pelayanan maternitas, pandangan masyarakat terhadap keluarga, dan support terhadap kebribadian wanita.














Penutup

Demikianlah makalah yang kami buat semoga bermanfaat bagi orang yang membacanya dan menambah wawasan bagi orang yang membaca makalah ini. Dan penulis mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan kata dan kalimat yang tidak jelas, mengerti, dan lugas mohon jangan dimasukan ke dalam hati.
Dan kami juga sangat mengharapkan yang membaca makalah ini akan bertambah motivasinya dan mengapai cita-cita yang di inginkan, karena saya membuat makalah ini mempunyai arti penting yang sangat mendalam.
Sekian penutup dari kami semoga berkenan di hati dan kami ucapkan terima kasih












Daftar Pusaka

·         http://freyadefunk.wordpress.com/2013/03/22/teori-jean-ball/
·         http://ingaerhiana.blogspot.com/2012/11/makalah-teori-jean-ball-kebidanan.html
·         http://themidwifecute.blogspot.com/2012/03/teori-jean-ball.html
·         http://www.scribd.com/doc/24057950/Teori-Jean-Ball
·         http://rohmatusangadah.blogspot.com/2010/11/jean-ball.html

Tuesday, June 30, 2015

Leaflet tentang ASI Eksklusif




Friday, May 22, 2015

A. PEMBAHASAN
Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar hemoglobin di bawah 11 gr% pada trimester I dan III  atau kadar hemoglobin < 10,5 gr% pada trimester II ( Depkes RI, 2009 ). Anemia adalah kondisi dimana sel darah merah menurun atau menurunnya hemoglobin, sehingga kapasitas daya angkut oksigen untuk kebutuhan organ-organ vital pada ibu dan janin menjadi berkurang. Selama kehamilan, indikasi anemia adalah jika konsentrasi hemoglobin kurang dari 10,50 sampai dengan 11,00 gr/dl (Varney, 2006 ).
Wanita memiliki sekitar 2,3 gram zat bes total di dalam tubuh yang sebagian besarnya (80%) ditemukan dalam masa sel darah merah sebagai hemoglobin (Hb). Zat besi total di dalam tubuh ditentukan oleh asupan, pengeluaran, dan penyimpanan mineral ini. zat besi yang tidak digunakan disimpan sebagai kompleks protein yang read more dapat larut yaitu feritin, yang terdapat terutama di hati, sum-sum tulang belakang, limpa dan otot skeletal. Dibutuhkan skema absorpsi normalsistem gastrointestinal yang mempertahankan keseimbangan antara kadar zat besi fungsional (Hb) dan zat besi yang disimpan (mioglobin). Tubuh mampu menyerap 1-2 mg zat besi setiap hari diet dan laju produksi sel darah merah yang adekuat. Faktor utama yang mengendalikan absorpsi zat besi adalah jumlah zat besi yang disimpan dalam tubuh dan jenis zat besi yang tersimpan dalam diet seseorang.
Kebutuhan zat besi meningkat untuk menyesuaikan dengan pertumbuhan, menstruasi, kehilangan darah atau donor darah, kehamilan, gangguan hemolitik, obat yang menyebabkan hemolisis (missal antiretrovirus), infeksi saluran kemih-kehamilan, dan infestasi cacing tambang.
Anemia defisiensi zat besi yang disebabkan oleh ketidakadekuatan absorpsi zat besi terjadi karena diet yang rendah zat besi hem, mal absorpsi, bedah lambung, infeksi malaria yang mengakibatkan rendahnya penggunaan zat besi dalam diet.
B. ETIOLOGI
Kebanyakan anemia dalam kehamilan disebabkan oleh defisiensi besi dan perdarahan akut bahkan tidak jarang keduannya saling berinteraksi (Safuddin, 2002). Menurut Mochtar (1998) penyebab anemia pada umumnya adalah sebagai berikut:
  1. Kurang gizi (malnutrisi)
  2. Kurang zat besi dalam diit
  3. Malabsorpsi adalah penyerapan nutrisi yang buruk dari saluran pencernaan ke dalam aliran darah, yang menyebabkan kekurangan gizi.
  4. Kehilangan darah banyak seperti persalinan yang lalu, haid dan lain-lain
  5. Penyakit-penyakit kronik seperti TBC paru, cacing usus, malaria dan lain-lain
C. PATOFISIOLOGI
Darah bertambah banyak dalam kehamilan yang lazim disebut hidremia atau hipervolemia, akan tetapi bertambahnya sel-sel darah kurang dibandingkan dengan bertambahnya plasma, sehingga pengenceran darah. Pertambahan tersebut berbanding plasma 30,00%, sel darah merah 18,00% dan Hemoglobin 19,00%. Tetapi pembentukan sel darah merah yang terlalu lambat sehingga menyebabkan kekurangan sel darah merah atau anemia.
Pengenceran darah dianggap penyesuaian diri secara fisiologi dalam kehamilan dan bermanfaat bagi wanita, pertama pengenceran dapat meringankan beban jantung yang harus bekerja lebih berat dalam masa kehamilan, karena sebagai akibat hidremia cardiac output untuk meningkatkan kerja jantung lebih ringan apabila viskositas rendah. Resistensi perifer berkurang, sehingga tekanan darah tidak naik, kedua perdarahan waktu persalinan, banyaknya unsur besi yang hilang lebih sedikit dibandingkan dengan apabila darah ibu tetap kental. Tetapi pengenceran darah yang tidak diikuti pembentukan sel darah merah yang seimbang dapat menyebabkan anemia.
Bertambahnya volume darah dalam kehamilan dimulai sejak kehamilan 10 minggu dan mencapai puncaknya dalam kehamilan 32 dan 36 minggu (Setiawan Y, 2006).
D. KLASIFIKASI ANEMIA
1.  Anemia defisiensi besi (62,3%)
Anemia jenis ini berbentuk normositik dan hipokromik di sebabkan oleh kurang gizi (malnutrisi), kurang zat besi dalam diet, malabsorpsi, kehilangan darah yang banyak (persalinan yang lalu, haid, dll)
2.  Anemia megaloblastik  (29,0%)
Anemia ini berbentuk makrositik, penyebabnya adalah kekurangan asam folik  dan kekurangan vitamin B12 tetapi jarang terjadi.
3.  Anemia anemia hipoblastik (8,0%)
Anemia jenis ini di sebabkan oleh hipofungsi sumsum tulang, membentuk sel-sel darah merah baru. Untuk itu di perlukan pemeriksaan :
a)  Darah tepi lengkap
b)  Pemeriksaan fungsi sterna
c)  Pemeriksaan retikulosit, dll
4.  Anemia hemolitik (0,7%)
Anemia jenis ini di sebabkan  penghancuran/pemecahan sel darah nerah yang lebih cepat dari pembuatannya.
 E.  TANDA DAN GEJALA ANEMIA
Masing-masing jenis anemia memiliki gambaran berbeda, bergantung pada kecepatan terjadinya anemia tetapi terdapat beberapa tanda dan gejala umum dan beberapa tanda dan gejalainiti, namun bukan semuanaya dapat ditemukan pada sebagian besar kasus. Ibu mungkin tidak mengerti bahwa dirinya mengalami gejala anemia sampai mereka ditanya, namun sering sekali mereka menganggap perasaan lelah dan letargi merupakan dampak dari kehamilan, waktu dalam setahun, atau kerana kelelahan karena tekanan kerja dan keluarga.
Gejala kelelahan, keletihan, irirtabilitas dan sesak nafas saat melakukan aktifitas merupakan gejala yang paling sering ditemukan. Stomatits ngular dapat juga terjadi yaitu robekan yang terasa nyeri pada sudut mulut yang menyebabkan kehilangan nafsu makan.
Ibu hamil dengan keluhan lemah, pucat, mudah pingsan, dengan tekanan darah dalam batas normal, perlu dicurigai anemia defisiensi besi. Dan secara  klinis dapat dilihat tubuh yang pucat dan tampak lemah (malnutrisi). Guna memastikan seorang ibu menderita anemia atau tidak, maka dikerjakan pemeriksaan kadar Hemoglobin dan pemeriksaan darah tepi. Pemeriksaan Hemoglobin dengan spektrofotometri merupakan standar ( Wiknjosastro, 2005).
Tanda pucat pada kulit, membrane mukosa dapat dilihat, dan mungkin tampak  pada telapak tangan dan konjungtiva, meskipun tanda ini bersifat subjektif dan tidak dapat diandalkan. Pada anemia klinis yang tampak secara langsung dihuungkan dengan ketidkadekuatan suplay oksigen dan mencakup takikardia dan palpitasi, angina dan kaludikasi intermitten.

F. DERAJAT ANEMIA
Pada ibu hamil dan penentuan kadar hemoglobin Ibu hamil dikatakan anemia bila  kadar hemoglobin atau darah merahnya kurang  dari 11,00 gr%.  Menururt Word Health Organzsation (WHO) anemia pada ibu hamil adalah kondisi ibu dengan kadar Hb < 11 % .  Anemia  pada  ibu hamil di Indonesia sangat bervariasi, yaitu:  Tidak anemia : Hb >11 gr%, Anemia ringan   : Hb 9-10.9 gr%, Anemia sedang  : Hb 7-8.9 gr%, Anemia berat   : Hb < 7 gr% ( Depkes, 2009 ; Shafa, 2010 ; Kusumah, 2009 ).
G. EFEK ANEMIA PADA IBU HAMIL
  • Bahaya Pada Trimester I
Pada trimester I, anemia dapat menyebabkan terjadinya missed abortion, kelainan congenital, abortus / keguguran.
  • Bahaya Pada Trimester II
Pada trimester II, anemia dapat menyebabkan terjadinya partus premature, perdarahan ante partum, gangguan pertumbuhan janin dalam rahim, asfiksia intrapartum sampai kematian, gestosis dan mudah terkena infeksi, dan dekompensasi kordis hingga kematian ibu.
  • Bahaya Saat Persalinan
Pada saat persalinan anemia dapat menyebabkan gangguan his primer, sekunder, janin lahir dengan anemia, persalinan dengan tindakan-tindakan tinggi karena ibu cepat lelah dan gangguan perjalanan persalinan perlu tindakan operatif (Mansjoer dkk, 2008).
 H. KEBUTUHAN ZAT BESI SELAMA KEHAMILAN
Zat besi tambahan dibutuhkan oleh tubuh selama kehamilan, kebutuhan total zat besi adalah antara 580 dan 1340 mg, dan dari jumlah itu sampai dengan sampai dengan 1050 mg akan hilang selama persalinan (hilman 1996). Pada awal kehamilan, kebutuhan zat besi sekitar 2,5mg/hari dan meningkat sekita 6,6 mg/hari pada trimester tiga. Diet normal zat besi negara maju adalah 15-20 mg/hari dan 3-10% diabsorpsi terutama dari duodenum. Pada wanita sehat, kehilangan zat besi sehari-hari adalah 1-2 mg (Jordan & McOwat).

 I. PENATALAKSANAAN
1.  Mendiagnosis
Evaluasi awal pada wanita hamil dengan anemia adalah melakukan pengukuran hemoglobin, hematokrit, dan indeks-indeks sel-sel  darah merah; pemeriksaan cermat terhadap sediaan apus darah tepi.
2.  Penanganan
a.  Anemia ringan
Pada kehamilan dengan kadar Hb 9 – 10,9 gr% masih dianggap ringan sehingga hanya perlu diberikan kombinasi 60 mg/ hari besi dan 400 mg asam folat peroral sekali sehari. Hb dapat dinaikkan sebanyak 1 gr%/ bulan.
b.  Anemia sedang
1)  Pengobatan dapat dimulai dengan pemberian preparat besi feros 600 – 1000 mg/ hari seperti sulfat ferossus atau glukonas ferossus. Hb dapat dinaikkan sampai 10 gr/ 100 ml atau lebih asal masih ada cukup waktu sampai janin lahir.( Saifuddin, AB, 2000 )
2)  Pemberian tablet Fe 3x1 ( Varney,H. 2007; h.625 )
c.   Anemia berat
Pemberian preparat parenteral yaitu dengan ferum dextran sebanyak 1000 mg ( 20 ml ) intravena 2x10 ml intramuskuler pada gluteus. Transfusi darah kehamilan lanjut dapat diberikan walaupun sangat jarang diberikan mengingat resiko transfusi bagi ibu dan janin. ( Saifuddin,AB. 2000 )









SOAP

Masuk rs tgl/jam          :           12 februari 2012/12.30 wita

Biodata


Nama               :           Ny.”H”           
Umur               :           28 tahun
Agama             :           Islam
Suku/bangsa    :           Bugis/Indonesia
Pendidikan      :           SMA
Pekerjaan         :           Wiraswasta
Alamat                        :           Jln.Maccini raya No.32.Surabaya
No tlp/hp         :           0411-342552
Nama suami                :  Tn “R”
Umur                           :  30 Th
Agama                         :  Islam
Suku/Bangsa               :  Jawa/Indonesia
Pendidikan                  :  SMP
Pekerjaan                     :  swasta
Alamat                                    :  Jln.Maccini raya No.32.Surabaya




Data subjektif              :
Ibu mengatakan ini kehamilannya yang ke 2, hpht 28 mei 2011, sering buang air kecil terutama pada malam hari, gangguan tidur pada malam hari karena keinginan untuk buang air kecil, makanan yang berair dan minum karena takut semakin sering buang air kecil, sering pusing,mual,lemas dan pandangan berkunang-kunang terutama pada pagi hari.



Data objektif    :
·         Ibu kelihatan lemas dan konjongtifa pucat
·         Pemeriksaan TTV (TD: 100/90 mmHg.N:80/menit.S:36o C)
·         TFU 30 cm ,teraba bagian bulat tidak ada lentingan(bokong janin)
·         Terdengar DJJ 144/menit dengan menggunakan dopler
·         Pemeriksaan lab HB 8 gram %
·         Genetalia tampak bersih, pendarahan (-), cairan (-)

Analisa    :
·         G2 P1 O1 dugaan usia kehamilan 32 minggu
·         Janin hidup tunggal intra uterin,letak memanjang,presentasi kepala
·         Diagnosa  anemia ringan

Penatalaksanaan (planing)     :
·                  Beritahu ibu hasil pemeriksaan
·                  Anjurkan kepada ibu untuk tidak melakukan pekerjaan yang terlalu berat
·                  Anjurkan kepada ibu untuk makan makanan yang mengandung zat besi dan sebaiknya sering makan dengan porsi yang dikurangi
·                  Anjurkan kepada ibu untuk tidak melakukan perjalanan jauh
·                  Anjurkan kepada ibu untuk  mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin setiap hari
·                  Anjurkan kepada ibu untuk  minum obat zat besi
·                  Anjurkan kepada ibu untuk olahraga ringan di pagi sebelum melakukan aktifitas
·                  Anjurkan kepada ibu untuk  melakukan pemeriksaan(kontrol) minggu lagi untuk melakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium





a.      Kesimpulan
            Seseorang dinyatakan menderita anemia apabila kadar hemoglobin kurang dari 12g/100ml. namun anemia lebih sering dijumpai dalam kehamilam. Hal itu disebabkan karena dalam kehamilan keperluan akan zat-zat makanan bertambah dan terjadi pula perubahan-perubahan dalam darah dan sum-sum tulang.
            Kejadian anemia pada ibu hamil harus selalu diwaspadai mengingat anemia dapat meningkatkan risiko kematian ibu, angka prematuritas, BBLR dan angka kematian bayi. Untuk mengenali kejadian anemia pada kehamilan, seorang ibu harus mengetahui gejala anemia pada ibu hamil, yaitu cepat lelah, sering pusing, mata berkunang-kunang, malaise, lidah luka, nafsu makan turun (anoreksia), konsentrasi hilang, napas pendek (pada anemia parah) dan keluhan mual muntah lebih hebat pada kehamilan muda.
            Pengobatan anemia biasanya dengan pemberian tambahan zat besi. Sebagian besar tablet zat besi mengandung ferosulfat, besi glukonat atau suatu polisakarida. Tablet besi akan diserap dengan maksimal jika minimum 30 menit sebelum makan. Biasanya cukup diberikan 1 tablet/hari, kadang diperlukan 2 tablet. Kemampuan usus untuk menyerap zat besi adalah terbatas, karena itu pemberian zat besi dalam dosis yang lebih besar adalah sia-sia dan kemungkinan akan menyebabkan gangguan pencernaan dan sembelit. Zat besi hampir selalu menyebabkan tinja menjadi berwarna hitam, dan ini adalah efek samping yang normal dan tidak berbahaya.
Anemia dapat dicegah dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang dengan asupan zat besi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Zat besi dapat diperoleh dengan dengan mengonsumsi daging (terutama daging merah) seperti sapi. Zat besi juga dapat ditemukan pada sayuran berwarna hijau gelap seperti bayam dan kangkung, buncis, kacang polong, serta kacang-kacangan. Perlu diperhatikan bahwa zat besi yang terdapat pada daging lebih mudah diserap tubuh daripada zat besi pada sayuran atau pada makanan olahan seperti sereal yang diperkuat dengan zat besi.
            Zat besi juga dapat dicegah dengan mengatur jarak kehamilan atau kelahiran bayi. Makin sering seorang wanita mengalami kehamilan dan melahirkan, maka akan makin banyak kehilangan zat besi dan menjadi semakin anemis. Jika cadangan Fe minimal, maka setiap kehamilan akan menguras persediaan Fe tubuh dan akhirnya menimbulkan anemia pada kehamilan berikutnya. Oleh karena itu, perlu diupayakan agar jarak antar kehamilan tidak terlalu pendek,
b.      Saran
            Kebijakan dari pemerintah yang ikut andil dalam pemeliharaan kesehatan calon ibu dengan menanggulangi anemia ini dengan cara memberikan tablet tambah darah untuk mengatasi anemia ibu perlu lebih pengaplikasikannya secara terorganisir









DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan RI. 1992. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil Dalam Konteks Keluarga. Jakarta
Manuaba, I.B.G.1998. Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana. Jakarta: EGC
Manuaba, I.B.G. 2001. Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri Ginekologi dan Keluarga Berencana. Jakarta: EGC
Mochtar, R. 1998 . Sinopsis Obstetri. Edisi 2. Jakarta: EGC
Notobroto. 2003. Insiden Anemia. http://adln.lib.unair.ac.id. diperoleh 24 Februari, 2006.
Robson, S. Elizabeth, Jason Waugh.2011. Patologi Pada Kehamilan Manajemen Asuhan Kebidanan. Jakarta : EGC
Saifudin, A.B. 2002. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: YBP-SP
Winkdjosastro, H. 2002. Ilmu Kebidanan. Jakarta: YBP-SP

Wylie, Linda. Helen Bryce. 2010. Manajemen Kebidanan Gangguan Medis Kehamilan dan Persalinan. Jakarta : EGC