Tuesday, March 28, 2017



PERAWATAN TALI PUSAT PADA BAYI BARU LAHIR (BBL)
 
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Tujuan Pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat adalah meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap orang agar terwujudnya derajat kesehatan masyarakat yang optimal diseluruh wilayahIndonesia.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menurunkan angka kesakitan (morbilitas) dan angka kematian (mortalitas) adalah dengan memberikan pelayanan kesehatan yang efektif pada masyarakat tentang perawatan tali pusat bayi, dalam melaksanakan upaya tersebut diperlukan SumberDaya Manusia yang mempunyai kemampuan untuk memberikan pelayanan yang berkualitas yaitu dengan memberikan penyuluhan  tentang kesehatan kepada masyarakat sehingga pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat  diharapkan dapat mempengaruhi perilaku masyarakat terhadap kesehatan.
Salah satu upaya atau cara untuk mengatasi masalah dan mengurangi AKB karena infeksi tali pusat (Tetanus Neonatorum) seperti yang disampaikan Menteri Kesehatan RI pemerintah menggunakan strategi yang pada dasarnya menekankan pada penyediaan pelayanan maternal dan neonatal berkualitas yang Cost – Efective yang tertuang dalam tiga pesan kunci, yaitu : Setiap kehamilan diberikan Toksoid Tetanus yang sangat bermanfaat untuk mencegah tetanus neonatorum; Hendaknya sterilitas harus diperhatikan benar pada waktu pemotongan tali pusat demikian pula perawatan tali pusat selanjutnya; Penyuluhan mengenai perawatan tali pusat yang benar pada masyarakat; Untuk menjamin keberhasilan pelaksanaan ketiga pesan kunci tersebut dan pencapaiannya, target yang telah ditetapkan untuk AKB pada tahun 2010 adalah 16/1000 kelahiran hidup(http://aangcoy13.blogspot.com/).

Tali pusat atau umbilical cord adalah saluran kehidupan bagi janin selama dalam kandungan, dikatakan saluran kehidupan karena saluran inilah yang selama 9 bulan 10 hari menyerupai zat-zat gizi dan oksigen janin (www.wordpress.com).
Kemampuan hidup sehat dimulai sejak bayi karena pada masa ini terjadi pertumbuhan dan perkembangan yangmenentukan kualitas otak pada masa dewasa.Supaya terciptanya bayi yangsehat maka dalam perawatan tali pusat pada bayi baru lahir dilakukan dengan benar – benar sesuai dengan prosedur kesehatan.
Guna mempercepat penurunanAngka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB), Departemen Kesehatan telah melaksanakanberbagai programyang berhubungan dengan kesehatan ibu dan anakdan salah satunya pencegahanTetanus Neonatorum.Upaya ini dilaksanakan dengan pencegahan infeksi padapersalinan dan perawatan tali pusat.Agartidak menimbulkan infeksi, sisa potongan tadi harus dirawat dengan benar.Sebanyak dua kalisehari sehabis mandi, tali pusarbayi harus dibersihkan.Setelah bayi berusia10-14 hari, biasanya talipusar ini sudah mengering dan terlepas dengan sendirinya.
Talipusat adalah salah satu bagianyang harus diperhatikan dalam dunia kesehatan, khususnya kebidanan.Halini karena tali pusat adalahorgan penting bagi kelangsungan hidup janin selama di dalam kandungan.Namun ada beberapa hal yang kadang masih kurang dipahami tentang tali pusat, antara lain perawatan dan bagaimana cara menghindari infeksi pada tali pusat.
1.2  Tujuan Penulisan
1.2.1        Tujuan Umum
Setelah berhasilnya penulisan makalah ini,diharapkan mahasiswa mampu memberikan penanganan tentang perawatan dan pemotongan tali pusat pada bayi baru lahir (BBL).

1.2.2        Tujuan Khusus
1.      Dapat mengetahui fakta terdahulu tentang perawatan tali pusat;
2.      Dapat mengetahui fakta terkini tentang perawatan tali pusat;
3.      Dapat mengetahui landasan ilmiah tentang perawatan tali pusat.
1.3  Rumusan Masalah

1.      Bagaimana fakta terdahulu tentang perawatan tali pusat?
2.      Bagaimana fakta terkini tentang perawatan tali pusat?
3.      Apa saja landasan ilmiah tentang perawatan tali pusat?

1.4  Manfaat Penulisan
Dengan makalah ini, maka dapat memberikan manfaat serta pengetahuan  yang berguna bagi mahasiswa, khususnya Mahasiswa Akademi Kebidanan dalam memahami tentang perawatan dan pemotongan tali pusat pada bayi baru lahir (BBL).
·         Bagi Institusi Pendidikan
Penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini dapat menambah bahan bacaan di perpustakaan, sebagai dokumentasi, serta dapat digunakan sebagai pembanding dalam penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan bayi baru lahir dengan kebutuhan perawatan tali pusat.

·         Bagi Masyarakat
Hasil penelitian ini dapat memberikan pengetahuan pada masyarakat khususnya ibu-ibu nifas mengenai pentingnya pengetahuan mengenai bagaimana perawatan tali pusat.

·         Bagi Penulis
Menanbah pengetahuan sertamemperoleh pengalaman nyata dalammelakukan asuhan kebidanan terhadap bayi baru lahir dengan kebutuhan perawatan tali pusat.



BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Fakta Terdahulu Tentang Perawatan Tali Pusat
Sebagian masyarakat misalnyadengan memberikan berbagai ramuan-ramuan atau serbuk-serbuk yang dipercaya bisa membantu mempercepat kering dan lepasnya potongan tali pusat.  Ada yang mengatakan tali pusat bayi itu harus diberi abu-abu pandangan seperti inilah yang seharusnya tidak boleh dilakukan karena justru dengan diberikannya berbagai ramuan tersebut kemungkinan terjangkitnya tetanus lebih  besar biasanya penyakit tetanus neonatorum  ini cepat menyerang bayi, pada keadaan  infeksi berat hanya beberapa hari  setelah persalinan jika tidak  ditangani  biasa  mengakibatkan meninggal dunia
2.2 Fakta Terkini Tentang Perawatan Tali Pusat
Tali pusat bayi yang baru lahir biasanya berwarna putih keabu-abuan, mengkilat dan licin. Sesudah beberapa hari, tali pusat akan berubah menjadi hitam keungu-unguan, kisut dan mengecil. Anda tak perlu takut untuk merawatnya.Perlu diketahui, pada tali pusat tidak terdapat ujung-ujung urat saraf. Untuk membuat tali pusat lepas dalam waktu 2- 4 minggu, dokterbiasanya menyarankan anda untuk mengoleskan alkohol setiapkal ianda selesai memandikannya.Jika tali pusat tersebut tidak kunjung mengering dan lepas dalam waktu lebih dari 4 minggu, sebaiknya membawa bayi ke dokter.
·         Alat dan Bahan:
1)      Waslap;
2)      Kassa steril;
3)      Air matang;
4)      Larutan klorin 0,5%;
5)      Kain bersih dan kering.
·         Merawat Tali Pusat
1)      Mengikat tali pusat
Setelah plasenta lahir dan kondisi ibu dinilai stabil makalakukan pengikatan puntung tali pusat atau jepit dengan klem tali pusat (bila tersedia);
2)      Celupkan tangan (masih menggunakan sarung tangan) kedalam larutan klorin 0,5% untuk membersihkan darah dan sekresi lainya;
3)      Bilas tangan dengan air disinfeksi tinggi;
4)      Keringkan tangan tersebut menggunakan handuk atau kain bersih dan kering.Ikat puntung tali pusat dengan jarak 1cmdari dinding perut bayi(pusat);
5)      Gunakan benang atau klem plastik penjepit tali pusat disinfeksi tingkat tinggi (DTT) atau steril. Kunci ikatan tali pusat dengan simpul mati atau kuncikan penjepit plastik tali pusat;
6)      Jika pengikatan dilakukan dengan benang tali pusat, lingkarkan benang di sekeliling putung tali pusat dan ikat untuk kedua kalinya dengan simpul mati di bagian yang berlawanan;
7)      Bungkus tali pusat menggunakan kasa steril;
8)      Lepaskan klem logam penjepit tali pusat dan letakan di dalam larutan klorin 0.5 %;
9)      Selimuti kembali tubuh dan kepala bayi dengan kain bersih dan kering.

·         Tujuan Perawatan Tali Pusat
1)      Menjaga daerah sekitar tali pusat tetap kering;
2)      Mencegah terjadinya infeksi pada tali pusat.
2.3 Landasan Ilmiah Tentang Perawatan Tali Pusat
Perawatan adalah proses perbuatan cara merawat, pemeliharaan dan penyelenggaraan.
Perawatantali pusat adalah pengobatan dan pengikat tali pusat yang menyebabkan pemisahan fisik terakhir antara ibubayi, kemudian tali pusat dirawat dalam keadaan steril,bersih, kering, puput dan terhindar dari infeksi tali pusat(IKA, 2005).
Perawatantali pusat sebenarnya sangat sederhana.Adapun yang paling penting pastikan tali pusatdan areasekelilingnya selalu bersih dan kering.Selalu cuci tangan menggunakan air bersih dan sabun sebelum membersihkan talipusat.Tali pusat tidak boleh ditutup rapat dengan apapun karena akan membuatnya menjadi lembab.Selain memperlambat puputnya tali pusat, juga menimbulkan resiko infeksi .pastikan bagian pangkal tali pusat dapat terkena udara dengan leluasa (Sitiatava,2012,hal:72-73).
Mengatakan cara perawatan tali pusat agar tidak terjadi peningkatan infeksi yaitu dengan membiarkan talipusat terbuka dan hanya membersihkan dengan air bersih, membersihkan tali pusat dengan alkoholtidak efektif karna alkohol akan mudah menguap di daerah panas sehingga efektifitasnya menurun.Begitupula dengan bedak antiseptik yang juga efektifitasnyaberkurang terutama dalam kelembapan tinggi, sehingga penggunaan bahan tersebut dapat meningkatan infeksi.Kecuali  bila dijaga agar tetap kering. Membiarkan tali pusat bayi mengering tidak ditutup dan hanya dibersihkan setiap hari menggunakan air bersih merupakan cara paling efektif dan biaya paling efisien dalam merawat tali pusat. Anjurkan ibu untuk tidak membubuhkan apapun pada daerah tali pusat karna dapat meningkatkan infeksi (Dewi,2010,hal:30).
Upaya untuk mencegah infeksi talipusat sesungguhnya marupakan tindakan sederhana, yang penting adalah tali pusat dan daerah sekitar tali pusat selalu bersih dan kering, dan selalu mencuci tangan dengan menggunakan air bersih dan menggunakan sabun.Sudah banyak penelitian yang dilakukan untuk meneliti bahan yang digunakan untuk merawat talipusat.Perawatan tali pusat secara medis menggunakan bahan antiseptik yang meliputi alkohol 70% atau anti mikrobial seperti Povidon Iodin 10% (Betadin), Klorheksidin, Iodium Tinsor,dan lain-lain yang disebut sebagai cara modern. Sedangkan perawatan talipusat metode tradisional mempergunakan madu, minyak Ghee (India), atau kolostrum air susu ibu (Sodikin,2009,hal: 57)
Berbagai penelitian tersebut memperlihatkan bahwa dengan membiarkan tali pusat kering, tidak ditutup, hanya dibersihkan setiap hari menggunakan air bersih, merupakan cara paling efektif untuk perawatan tali pusat. Tali pusat tidak boleh ditutup rapat dengan menggunakan apapun, karena akan menyebabkan tali pusat menjadi lembab, selain memperlambat lepasnnya tali pusat penutupan tali pusat juga menyebabkan resiko infeksi.
Perawatan tali pusat yang benar dan lepasnya tali pusat dalam minggu  pertama secara bermakna mengurangi insiden infeksi pada Neonatus yang penting dalam perawatan talipusat adalah menjaga agar tali pusat tetap kering dan bersih. Cuci tangan dengan sabun dan air bersih sebelum merawat tali pusat.Bersihkan dengan lembut kulit disekitar tali pusat dengan kapas bersih, kemudian bungkus dengan longgar/tidak terlalu rapat dengan kasa bersih atau steril.Popok atau celana bayi harus diikat di bawah tali pusat, tidak menutupi tali pusat untuk menghindari kontak dengan feses dan urin.Hindari penggunaan kancing,koinatau uang logam untukmembuattertekan tali pusat. (Prawiroharjo,2009,hal: 370).
BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Perawatanadalah proses perbuatan, cara merawat, pemeliharaan, penyelenggaraan (Kamisa, 1997).
Perawatan tali pusat tersebut sebenarnya juga sederhana.Perawatan tali pusat merupakan tindakan keperawatan yang bertujuan merawat tali pusat pada bayi baru lahir agar tetap kering dan mencegah terjadinya infeksi (Aziz,2009 hal:59).
Perawatan tali pusat merupakan suatu tindakan yang sangat sederhana yaitu denganmembersihkan daerah sekitar tali pusat agar selalu bersih dan kering dan selalu mencucitangan dengan air bersih serta menggunakan sabun sebelum merawat tali pusat.

3.2 Saran

1)      Bagi pembaca makalah ini, apabila memiliki minat untuk menulis/meneliti tentang penelitian ini, penulis harapkan dapat meneliti lebih dalam lagi mengenai penelitian;
2)      Penulis harapkan makalah ini merupakan rintisan bagi penulisan makalah;
3)      Apabila terdapat kekurangan dalam makalah ini, penulis harapkan agar pembaca mencari solusi dari kekurangan makalah ini dengan menambah referensi bacaan dari yang lain;
4)      Diharapkan masyarakat terutama ibu-ibu yang baru melahirkan mengikuti setiap pengarahan dan konseling yang telah dilakukan oleh tenaga kesehatan sehingga dapat melakukan perawatan tali pusat pada bayi baru lahir dengan benar.




DAFTAR PUSTAKA

1.      Sumber dari internet
Dewi Kartika.Sabtu, 25 Februari 2012. Blogspot.Pemotongan dan Perawatan Talipusat. Tipah,Kalimantan Tengah. http://xa-dewie.blogspot.com/2012/02/pemoto ngan-perwatan- tali-pusat.html. 25-02-2012.
Chunaifi, A. M.Minggu, 01 Desember 2013.Blogspot.askeb koprehensif.http://aangcoy13.Blogspot.com/. 01-12-2013.
Boy.Jumat,18 Maret 2011.http://boycellyess.blogspot.com/2011/03/perawatan-tali-pusat-pada-bayi-baru.html. 18-03-2013.

2.      Sumber dari buku
Pritasari Kirana. 2010. Pelayanan KesehatanNeonatal Esensial. Jakarta: Kementerian Kesehatan,2010
Budihardja.2010. Materi KIE dalam Penurunan AKB.Jakarta : kementerian kesehatan RI 2010 MEDIA ini dicetak dengan biaya DIPA Direktorat Bina Kesehatan Anak Kementerian Kesehatan RI

                                                         TEORI KEBIDANAN JEAN BALL 
 
BAB I PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG

Hipotesa Ball, respon emotional wanita terhadap perubahan yang terjadi bersamaan dengan kelahiran anak yang mempengaruhi personality seseorang dan dengan dukungan yang berarti mereka mendapatkan sistem keluarga dan sosial. Persipan yang telah di lakukan bidan pada masa postnatal akan mempengaruhi respon emotional wanita terhadap perubahan akibatproses kelahiran tersebut. Kesejahteraan wanita setelah melahirkan tergantung pada personality dan kepribadian, sistem dukungan pribadi dan dukungan dari pelayanan maternitas. 


Setelah Ibu melahirkan, maka Ibu memasuki masa nifas atau yang lazim disebut puerperium. Masa nifas (puerperium) adalah waktu yang dimulai setelah placenta lahir dan berakhir kira-kira 6 minggu. Akan tetapi alat kandungan seperti semula (sebelum hamil) dalam waktu kurang lebih 3 bulan.
Dimulai dengan kehamilan, persalinan dan dilanjutkan dengan masa nifas merupakan masa yang kritis bagi ibu dan bayinya. Kemungkinan timbul masalah dan penyulit selama masa nifas. Apabila tidak ditangani segera secara efektif akan membahyakan kesehatan, bahkan bisa menyebabkan kematian dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam pertama. Untuk itu pemberian asuhan kebidanan kepada Ibu dalam masa nifas sangat perlu dilakukan yang bertujuan untuk menjaga kesehatan Ibu dan bayinya, melaksanakan deteksi dini adanya komplikasi dan infeksi, memberikan pendidikan pada Ibu serta memberikan pelayanan kesehatan pada Ibu dan bayinya.
Selama masa nifas, Ibu akan mengalami berbagai perubahan. Perubahan yang terjadi pada masa nifas tidak hanya terjadi secara fisik saja, melainkan juga psikologis atau kejiwaan. Sehingga, pemberian edukasi tentang informasi yang berkaitan dengan masa nifas sangat perlu diberikan pada Ibu dalam masa nifas.



B.TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu untuk mengetahui teori kebidanan menurut Jean Ball yang meliputi:
1.      Pengertian dari teori Bean Ball
2.      Tujuan dari teori Jean Ball
3.      Hipotesa teori jean Ball
4.      Pembagian teori Jean Ball
5.      Elemen pembentukan teori kursi goyang
6.      Konsep teori Jean Ball
7.      Faktor – faktor yang Berkaitan
8.      Aplikasi dari teori Jean Ball dalam kehidupan sehari-hari
C.RUMUSAN MASALAH
1.      Bagaimana pengertian teori kebidanan menurut Jean Ball ?
2.      Apa tujuan dari teori Jean Ball ?
3.      Bagaimana hipotesa dari teori Jean Ball ?
4.      Apa-apa saja pembagian teori menurut jean Ball ?
5.      Apa saja elemen pembentukan dari teori kursi goyang ?
6.      Bagaimana konsep teori kebidanan menurut Jean Ball ?
7.      Apa saja Aplikasi dari teori Jean Ball dalam kehidupan sehari-hari ?
BAB II
PEMBAHASAN

A.PENGERTIAN TEORI JEAN BALL


Jean ball adalah seorang midwife” (bidan) dari British yang telah melakukan risetnya secara intensif terhadap kebutuhan wanita pada masa postnatal, dan konsekuensinya bagi wanita yang mendapat asuhan dari berbagai unit pelayanan.
Dalam bukunya “Reaction to motherhood” (1987) ia menjelaskan tujuan asuhan postnatal yang sekaligus juga menjadi filosofi Jean Ball tentang postnatal care sebagai berikut: “membantu seorang wanita agar berhasil menjadi ibu, dan keberhasilan ini tidak hanya melibatkan proses fisiologi saja tapi juga psikologis dan emosional yang memotivasi keinginan untuk menjadi orang tua serta pencapaiannya.”
Ia menyatakan bahwa dalam praktik diberbagai institusi, jenis pelayanan yang diberikan mungkin lebih dekat ke model obstetric/medical dimana interest terhadap postnatal care minimal karena kelahiran sudah tercapai.
Teori Jean Ball adalah dasar pemikiran menurut penelitian yang bernama jean Ball, yang konsekuensinya telah diuji dalam beberapa riset (penelitian) dan menujukkan hasil yang nyata.
Teori ini mengemukakan tentang keseimbangan emosional itu, yang diibaratkan pada kursi “goyang”. Teori ini sering disebut kursi goyang karena tingkat emosional seorang ibu harus berada pada titik seimbang (stabil) sehingga mirip dengan kursi goyang dimana beban harus seimbang pada titik tumpu, karena jika tidak, kursi akan condong ke arah yang memiliki beban yang berat, begitu juga dengan pengendalian emosional seseorang. Jika seseorang (wanita) mampu mengendalikan tingkat emosionalnya berarti orang tersebut memilki tingkat emosional yang rendah dan terkendali atau sebaliknya. Semua itu dapat kita lihat dalam berbagai keunikan tindakan yang diambil Ibu dalam mendidik dan membesarkan anak-anaknya.
B.TUJUAN TEORI JEAN BALL
Tujuan asuhan maternis agar seorang wanita mampu melaksanakan tugasnya sebagai ibu, baik fisik maupun psikologis. Psikologis dalam hal ini tidak hanya pengaruh emosional tetapi juga proses emosional agar tujuan akhir memenuhi kebutuhan untuk menjadi orang tua terpenuhi. Kehamilan, persalinan dan masa post partum adalah masa mengadopsi peran baru, sehingga bagi wanita yang baru menjadi ibu sangat membutuhkan arahan-arahan dan bimbingan dari bidan tentang tindakan-tindakan yang harus diambil maupun tindakan-tindakan yang harus dihindari demi keselamatan dan kesehatan ibu dan anak. Dalam hal ini dukungan dari suami dan keluarga sangat diperlukan demi psikologis (kejiwaan) seorang ibu.
Agar ibu mampu melaksanakan tugasnya sebagai ibu secara fisik maupun psikologis. Psikis dalam hal ini tidak hanya pengaruh emosional tapi juga proses emosional agar tujuan akhir memenuhi kebutuhan untuk untuk menjadi orang tua terpenuhi

C.HIPOTESA JEAN BALL
Menurut Jean Ball respon emosional wanita terhadap perubahan yang terjadi bersamaan dengan kelahiran anak yang mempengaruhi personality seseorang dan dukungan yang berarti, mereka mendapatkan sistem keluarga dan sosial. Ibu sebagai penerus keturunan sekaligus pendidik utama dalam keluarga sangat mempengaruhi perkembangan anak. Seorang anak yang dibesarkan dalam asuhan keluarga yang baik, ketika ia barinteraksi di lingkungan masyarakat maka ia akan terbiasa dengan perilaku yang baik pula. Persiapan yang sudah diantispasi oleh bidan dalam masa post natal atau sesudah melahirkan anak akan mempengaruhi respon emosional wanita dalam perubahan yang dialaminya pada proses kelahiran anak. Oleh karena itu asuhan kebidanan harus diberikan kepada seluruh individu kelompok dan masyarakat secara profesional baik pelayanan tersebut secara mandiri, kolaborasi (kerjasama melebihi dari beberapa orang) maupun merujuk ke sistem yang lebih tinggi.
D.PEMBAGIAN TEORI JEAN BALL
Pembagian teori Jean Ball mencakup 3 kategori yaitu :
1.Teori perubahanPerubahan mental ibu sebelum dan sesudah menjadi ibu akan jelas terlihat dalam kehidupan baik itu secara fisik maupun psikologis si ibu. Secara fisik dapat kita lihat pada perubahan bentuk tubuh setelah melahirkan anak. Sedangkan secara pssikologis misalnya dalam pematangan mental (pendewasaan sikap) setelah melahirkan (post partum) ibu tidak hanya berfikir untuk anak dan keluarganya.
2.Teori stress, coping, dan supportTingkat emosional sangat mempengaruhi mental ibu. Oleh karena itu dukungan atau support dan motivasi dari keluarga terhadap perubahan-perubahan yang timbul terutama perubahan yang bersifat positif, support dari orang-orang terdekat ibu sangat diperlukan untuk menghindari dari stress, depresi, post partum dan dampak-dampak negatif  lainnya.
3.Teori dasarKonsep dasar untuk menjadi seorang ibu meliputi berbagai aspek diantaranya :
a.       Butuh persiapan jasmani dan rohani
b.      Dukungan dari pihak keluarga

E.ELEMEN PEMBENTUKAN TEORI KURSI GOYANG

Kesejahteraan wanita setelah melahirkan sangat bergantung pada personality atau kepribadian wanita itu sendiri, support system dukungan pribadi dan support yang diberikan oleh pelayanan maternitas.
Penjelasan gambar
  1. Dasar kursi dibentuk oleh pelayanan kebidanan yang berpijak pada pandangan masyarakat tentang keluarga.
  2. Topangan kanan kiri adalah kepribadian wanita, pengalaman hidup.
  3. Topangan tengah (yang menyangga kursi dari belakang kanan-kiri ) adalah keluarga dan support sistem.
  4. Tempat duduk menggambarkan kesejahteraan maternal, yang tergantung pada efektifitas elemen-elemen sebagai berikut:
-          Jika deck chair tidak ditegakkan dengan benar, maka ia akan kolaps/jatuh saat diduduki.
-          Jika kursi tidak di letakkan pada lantai yang kuat maka kursi akan jatuh.
-          Jika bagian-bagiannya tidak cocok satu sama lain mungkin dapat saja menyangga, namun yang menduduki tidak nyaman dan mengalami ketegangan.

Ball mengemukakan teori kursi goyang/deck chair yang terdiri dari 3 elemen yaitu:
1.Pelayanan maternitas Bidan berkewajiban memberikan pelayanan kesehatan kepada remaja putri, ibu masa hamil, bersalin, nifas, bayi baru lahir, balita dan wanita monopouse. Dalam memberikan asuhan kebidanan, bidan harus mempertanggung jawabkan semua tindakan klinis yang diambil dan harus melaksanakan tanggungjawab tersebut yang meliputi tugas bidan sebagai pelaksana, pengelola, pendidik, peneliti dan lain-lain.
2.Pandangan masyarakat terhadap keluarga Pandangan masyarakat terhadap suatu keluarga sangat mempengaruhi perkembangan dan tingkat harga diri anggota keluarga tersebut. Jika pandangan masyarakat baik terhadap keluarga maka secara otomatis penerus keluarga akan mendapatkan nama baik dalam pandangan masyarakat, selama si anak tidak melanggar norma-norma yang terdapat dalam masyarakat.
3.Sisi penyanggah/support terhadap kepribadian wanita Dukungan terhadap perubahan kepribadian/kebiasaan hidup wanita sangat dibutuhkan, agar wanita tersebut tidak merasa down terhadap tingkat perubahan diri yang tidak disadarinya.Kesejahteraan keibuan seorang wanita sangat bergantung terhadap efektifitas 3 elemen tersebut. Jika kursi goyang tidak dapat ditegakkan, maka tidaak nyaman untuk diduduki.
F.KONSEP TEORI JEAN BALL
1.Women / wanitaBall memusatkan perhatiannya terhadap perkembangan emosional, sosial, psikologis wanita dalam proses melahirkan.
2.Healt / kesehatanMerupakan pusat dari model Ball. Tujuan dari post nata care agar wanita-wanita mampu menjadi seorang ibu.
3.Enviroment / Lingkungan sosial dan organisasi dalam sistem dukungan dan pelayanan perawatan post natal.
4.Midwifery / kebidananPenelitian asuhan post natal misalnya kurang efektif, kurang pengetahuan tentang kebidanan.
5.SelfPeran bidan dalam meyakinkan wanita dalam perannya sebagai seorang ibu. 

G.Faktor – faktor yang Berkaitan
Faktor yg pengaruhi keseimbangan emosional menurut Jean Ball:
a. Faktor masukan:
1. Perasaan rendah diri sehubungan dengan pandangan negatif terhadap akibat menyusui.
2. Seorang tidur selama di RS
3. Nasehat bila terjadi konflik
Faktor-faktor tersebut akan mempengaruhi masa PP 7 hari pertama
b. Faktor yg mempengaruhi kebahagiaan ibu menurut Jean Ball ( Keadaan masa PP 7 hari pertama):
1. Persepsi dan dukungan keluarga pada hari kelahiran.
Sebagian dari ibu merasa rendah diri sehubungan dengan pandangan negatif akibat menyusuui sehingga memerlukan dukungan keluarga terutama suami. Keluarga juga harus membantu si ibu untuk merawat bayinya setelah pulang ke rumah serta si ibu juga memerlukan nasihat-nasihat yang berkenaan dengan mengurusi bayinya/pada saat terjadi konflik antara suami dan istri.
2. Rasa percaya diri ibu.
Lingkungan, keluarga, status sosial, dan status perkawinan dapat berpengaruh pada rasa percaya diri seorang perempuan untuk menjadi seorang ibu.
3. Tingkat kecemasan yaitu pemilihan dan kelas sosial mimikri.
Yaitu tingkat kecemasan ibu yang dihadapkan pada pilihan-pilihan kelas sosial mana yang dapat ditiru.
4. Mendukung pemberian ASI.
Bidan memberikan pengertian pada ibu agar memberikan ASI eksklusif, memberitahu ibu agar tidak perlu khawatir payudaranya akan menjadi tidak kencang, memberitahu manfaat ASI eksklusif bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi.
5. Semua lingkungan mendukung.
Hubungan dengan suami dan keluarga atas dasar kepercayaan, asuhan terkoordinasi, wanita memiliki keunikan sehingga memungkinkan untuk berinteraksi secara fleksibel.
6. Rencana asuhan ibu.
Bidan memberikan asuhan post natal pada ibu misalnya memberikan informasi tentang cara menyusui dan merawat bayi dengan benar.
7. Pemantauan ibu pada tingkat perkembangan bayi.
Seorang ibu akan merasa bahagia apabila melihat tumbuh kembang anaknya berjalan dengan baik dan normal. Contohnya ibu akan merasa bahagia dan bangga apabila anaknya mulai bisa berjalan merambat pada kisaran usia 11 bulan.
8. Tanggapan terhadap diri ibu pada hari ke 7 PP dalam menyusui.
Seorang ibu menganggap bahwa setelah melahirkan, payudaranya akan menjadi tidak kencang dan al itu akan mempengaruhi kesejahteraan ibu.
9. Memberi ASI dalam 1 jam PP
Memberikan ASI kepada bayi 1 jam setelah lahir akan memberikan kepuasan menjadi seorang ibu merasa bahagia karena bayinya kahir dengan selamat.
10. Kala IV persalinan
Yaitu kondisi letak rahim ibu sudah kembali normal (rahim di bawah pusat).
 H.Aplikasi Teori Jean Ball
1. Dahulu posisi ibu saat melahirkan terlentang tetapi sekarang ini posisi ibu saat melahirkan senyaman ibu. Agar memberikan rasa kenyamanan psikologis bagi Ibu.
2. Keluarga memberikan dukungan terutama ibu yang pertama kali melahirkan agar  siap secara mental menjadi seorang Ibu dan membantu ibu menyesuaikan diri dengan rutinitas baru pasca melahirkan
3.Bidan memberikan asuhan pada Ibu selama masa postnatal
4.Bidan memberi dukungan mengenai rasa percaya diri ibu terhadap menyusui pada 7 hari pertama
5.Bidan memberikan pengertian pada ibu agar ibu jangan takut atau khawatir dengan perubahan fisik pada tubuh ibu
6.Bidan mendukung dan membantu ibu agar yakin menjalankan peran sebagai seorang ibu.


















Kesimpulan
1.Dalam teori Jean Ball menegemukakan tentang keseimbangan emosional ibu yang diibaratkan pada kursi “goyang”. Dimana jika seorang wanita mampu mengendalikan tingkat emosionalnya, berarti orang rersebut memilki tingkat emosional yang rendah dan terkendali atau sebaliknya.
2.Asuhan maternis diberikan kepada seorang wanita agar wanita tersebut mampu untuk melaksanakan tugasnya sebagai seorang ibu, baik fisik maupun psikologis.
3.Kesejahteraan seorang wanita setelah melahirkan sangat tergantung pada personality, sistem dukungan pribadi, dan dukungan pelayanan maternis.
4.Teori kusi goyang dibentuk dalam 3 elemen penting yaitu, pelayanan maternitas, pandangan masyarakat terhadap keluarga, dan support terhadap kebribadian wanita.














Penutup

Demikianlah makalah yang kami buat semoga bermanfaat bagi orang yang membacanya dan menambah wawasan bagi orang yang membaca makalah ini. Dan penulis mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan kata dan kalimat yang tidak jelas, mengerti, dan lugas mohon jangan dimasukan ke dalam hati.
Dan kami juga sangat mengharapkan yang membaca makalah ini akan bertambah motivasinya dan mengapai cita-cita yang di inginkan, karena saya membuat makalah ini mempunyai arti penting yang sangat mendalam.
Sekian penutup dari kami semoga berkenan di hati dan kami ucapkan terima kasih












Daftar Pusaka

·         http://freyadefunk.wordpress.com/2013/03/22/teori-jean-ball/
·         http://ingaerhiana.blogspot.com/2012/11/makalah-teori-jean-ball-kebidanan.html
·         http://themidwifecute.blogspot.com/2012/03/teori-jean-ball.html
·         http://www.scribd.com/doc/24057950/Teori-Jean-Ball
·         http://rohmatusangadah.blogspot.com/2010/11/jean-ball.html